Senin, 17 Desember 2012

“I Dream of Eden”


Visiting the gardens made him sad again. He promised to take his mother here to see flowers from all over the world. Didn’t he mention to her that they have olive trees? She loved to use olive oil for her youthful skin. Yes, her skin looked youthful even when she was dying. Yes he did mention it to her. The dwarfed trees remind him of her.

And for a while he forgot about it when he saw white lilies and tiger lilies. The flowers produce strong, woody smell. He thought the blooms were sprinkled with sawdust but when seen closely, it was the pollen. He once again got distracted by the chance of finding roses of Sharon, a kind of hibiscus. The name sounds beautiful to his ears. Then he found out that camellia can grow so tall. Nevermind the pungent smell, the flowers look so showy. And its leaves look like those of tea.

It rained outside and he was raining inside. He was sad that she would never be here to see everything that looks so bright, so beautiful. The gardens are lovely. If he could imagine what Eden—sans domes—might have looked like, here it is. But then there is Eden Project in Europe.

Gardens are said they boost longevity. S thought, the Chinese proverb is true: if you want to be happy for a week, cook a swine. A month, get married. For life, tend a garden.

His mother never liked flowers that much. She only planted edible plants. But she did admire them, like bunga rias (a kind of torch ginger, a food flavoring), domiana (a herb with red appearance, thought to have medicinal purposes), and banana flowers (which she cleverly cooked and served with sambal). He remembered that one day, like months before they moved to Jalan Hamid Rusdi, she gave him Rp500 to buy a small orchid in order to make him happy. And she even transformed her front garden in Java with bright red florets of roselle which aroused the neighborhood’s curiosity.

Outside of the glass domes, it was raining and he was still raining inside. The sickly sweet smell of tea hybrid roses made him even more sad. He remembered, his mother let a pot of rose grow. Perhaps as a gesture of remembrance. Her mother—his grandmother—used to distill and sell rose water in the market.

But then he remembered, she is already in Eden now. The real Eden. Eden sans domes. Not only flowers, she will find fruits also and animals. It is where lambs are playing with lions.It's where hummingbirds are abundant, so are butterflies. He's sure, she is happy there.

 

Minggu, 25 November 2012

Kisah Dua Kerajaan (Cirebon)

Perjalanan liburan yang dilakukan tiba-tiba selalu seru. Kebanyakan seru. Never mind the chaos, anyway. 
 "Meow!" said MP. "It should be 'Arrrr!' Mind you, it's a tiger," said K.
Begitu lah, MbakRuus, MsWaty, MasMoki, MbakDiah, dan MasPur—kesemuanya MR, MW, MM, MD, dan MP—naik kereta kelas bisnis ke Cirebon. Wow, wow, wow, begitu MP terkagum karena kali ini tidak ada penumpang duduk di lantai kereta. Di dua perjalanan MP sebelumnya di kelas bisnis (Jogja-Bandung, Jakarta-Surabaya), banyak penumpang gelap duduk di lantai kereta. Salut buat PT KAI untuk terobosan ini. Cirebon Ekspres kelas Bisnis pun jadi menyenangkan, terlebih lagi tak ada yang merokok. MD, duduk di samping MP, terlihat sangat hanyut dalam kenyamanan. Dia dibuai lantunan Edo Kondologit: “…kulitku hitam, rambut keriting, aku Papua…

Sesampai di Cirebon, mereka langsung mengarah ke kompleks keraton. Setelah membayar Rp5.000/orang, mereka masuk. Di sebelah kiri, ada museum yang sedang dipugar, begitu juga bangunan di seberangnya. Mereka pun masuk—dengan suka cita—melalui pintu gerbang batu bata. MP langsung teringat ke Masjid Kudus yang masih terinspirasi candi-candi Hindu ala Jawa Timuran. Banyak bagian bangunan Kraton yang memakai batu bata, macam kompleks bangunan kuno Majapahit di Mojokerto. Tak jauh dari situ terlihatlah pendopo besar dengan banyak tiang penyokong. Mungkin di masa lalu, pendopo itu hiruk-pikuk dengan kesenian…. MP hanya bisa membayangkan saja. Dia sedikit menyesal tak datang saat kirab budaya sehari sebelumnya.
Setelah berfoto di pintu gerbang—yang dimasuki dengan suka cita tadi—mereka pergi ke bangunan di sebelah. Façade-nya putih. Putihnya terlihat seperti putih kapur, sehingga MP berpikir, apa yang ada di balik pelapur putih itu? Apakah itu susunan batu bata? Mengapa banyak keramik di dindingnya?

Pelat keramik itu ternyata bergambar: kapal, bangunan mirip kincir angin, unggas. Masuk ke dalam ruang yang dahulu adalah tempat raja dan para petinggi rapat, ternyata banyak keramik yang menutupi dindingnya. Ada panel warna biru, ada panel warna cokelat.

Panel biru bergambar tentang aktivitas sehari-hari. Ada kapal, ada bangunan mirip kincir angin, dan ada unggas. Di keramik biru, ada pula berbentuk bulat, seperti piring. Di situ ada gambar rumah bergaya arsitektur China.

Namun, yang paling menarik MP adalah panel warna cokelat. Panel itu malah penuh gambar dari kisah-kisah di Alkitab. MP cukup heran, mengingat ini kesultanan Islam. Dia pun langsung terbawa ke kisah-kisah di Sekolah Minggu….


Hampir setiap panel MP kenali kisahnya.

Yang ini kisah Yesus dan murid-muridNya sedang menjala ikan. Murid-murid ini sudah seharian jala ikan di Danau Galilea, tapi nggak dapat seekor pun. Waktu Yesus bilang, lemparkan ke sisi kanan. Dapet deh mereka sampai kapal oleng. Dihitung, ada 150 ekor lebih. Yesus sendiri sudah siapkan bara api, tinggal bakar ikan.

"Ini Bileam!" kata satu suara. Seperti biasa, saat MP sedang mencoba menggali ingatan di otak kelabunya, KV hadir.

KV: Dia lari dari tugas, kalau tidak salah?

MP: Sepertinya ya. Dia naik keledai dan keledai ini selalu mundur sampai Bileam jatuh. Si keledai pun dihardik dan dipukul. Oleh Tuhan, si keledai dibukakan mulutnya dan binatang itu pun berkata-kata, “Kenapa kamu marahi aku? Di depan ada malaikat menghunus pedang!” Bileam pun langsung minta ampun ke Tuhan.

KV: Bileam pasti terguncang setengah mati mendengar keledai bicara dan keledai bawa berita menyeramkan. Luar biasa. 

MP: Itulah alasan aku percaya, binatang dapat diajak bicara.

KV: Daud mengalahkan Goliath. Manusia raksasa ini tingginya 3 meter.

MP: Wah, dia bisa jadi atlet basket tenar. 

KV diam saja, merasa tak perlu mengomentari celetukan MP.



MP: Ini alasan mengapa bahasa manusia berbeda-beda.

KV: Karena orang-orang membangun menara Babel yang tingginya sampai ke langit “untuk menyaingi Tuhan”. 

MP: Masak Tuhan marah kalau mereka bangun menara sampai ke langit?

KV: Tuhan marah dan membuat mereka berbahasa macam-macam dan mereka saling bingung dan karena itu, diaspora terjadi. 

MP: Pasti bukan karena itu Tuhan marah, buktinya sekarang banyak gedung yang mencapai langit.


KV: “Kalau kamu minum dari air milikku, kamu tidak akan haus lagi,” kata Yesus ke perempuan yang mau ambil air di sumur ini. Si Perempuan itu tentu langsung mau air itu. Tapi, yang Yesus maksud adalah damai sejahtera, air untuk jiwa yang dahaga.

MP: Kenapa Yesus suka sekali bicara dalam bahasa kiasan?

KV: Entahlah. Singkat cerita, setelah mengobrol di tepi sumur, perempuan yang punya lebih dari dua suami ini mengikuti ajaran Yesus.

KV: Ini pastilah para cendekia dari tempat yang jauh. Mereka mengikuti bintang yang mengarahkan mereka ke rumahnya Yesus. Bintang itu pasti spesial dan mereka pun spesial karena bisa membaca pergerakan benda-benda di langit. Mereka bawa emas, mur, dan kemenyan buat Yesus Cilik. Pasti itu berarti banget ya buat Maria dan Yusuf yang hidup pas-pasan. 

MP: Gimana kamu tahu mereka miskin?

KV: Maria dan Yusuf waktu ibadah ke Bait Allah, mereka bawa burung tekukur sebagai korban ucapan syukur. Buat yang lebih mampu, mereka bawa mamalia kaki empat macam domba.

MP: Air bah, banjir besar. Le deluge! 

KV: Nuh, istri, tiga anak, tiga mantu selamat karena mereka bikin bahtera. 

MP: Tiga anak Nuh: Sem, Ham, Yafet. Namaku disebut.

KV: Ya. Kenapa tidak disebut nama istri Nuh? Juga nama-nama mantu mereka?

MP: Pertanyaan yang nggak pernah aku pikirkan sebalumnya. Aku sendiri lebih tertarik mencari tahu alasan kenapa hanya delapan manusia yang diselamatkan bersama hewan-hewan? Apakah ada dinosaurus masuk di bahtera?

MP: Panel yang ini membingungkan. Ini Yesus berdoa di Taman Getsemani ditemani dua murid? Atau ini Saulus? Dua kisah ini punya kesamaan: ada suara dari langit.

KV: Yesus berdoa, Allah Bapa menyahut dari langit. 

MP: Saulus juga! Ini waktu dia jatuh dan ada suara datang dari langit. Saulus kan penyiksa orang-orang Kristen. Dia Yahudi fanatik alias radikal. Dia mengejar orang-orang Kristen dan memenjarakan mereka, memvonis mereka sesat. Akhirnya, setelah satu kecelakaan, dia malah jadi orang Kristen.

KV: Terserah. Bisa Saulus, bisa Yesus. Oh ya, Saulus ganti nama jadi Paulus setelah ikut Yesus.


Ini Yusuf menuntun keledai yang ditunggangi Maria dan Yesus Cilik. Mereka melarikan diri ke Mesir. Saat itu, Timur Tengah dikuasai Roma dan rajanya membunuhi bayi laki-laki karena dia dengar gosip, raja yang akan menggulingkan Roma telah lahir.



MP: Simson alias Samson. Dia bunuh singa dengan dua tangan. Hebat!

KV: Lebih hebat lagi, setelah itu, lebah-lebah bersarang di bangkai singa itu dan Simson mengambil madunya. Dari situlah lahir tebakan, “Dari yang kuat keluar makanan. Apakah itu?” 

MP: Apakah karena perbuatan Simson itu, kini singa punah dari wilayah Timur Tengah? 



MP: Ini siapa coba? Masak manusia berkelahi dengan malaikat?

KV: Ini Yakub lagi bergulat dengan malaikat. Kisahnya ada di kitab Taurat yang pertama. Yakub melarikan diri dari dendam abangnya, nah malam-malam dia ketemu orang. Tidak dicatat kitab itu, apa alasan mereka bergulat. Dia nggak sadar, pria itu malaikat.

MP: Kok dia nggak tahu itu malaikat? Nih lihat, orang ini pakai sayap.

KV: Jangan literer, ini ilustrasi. 

MP: Pasti pas berantem, malaikat itu nggak pakai sayap alias nggak menampakkan diri dengan sayap.

KV: Paginya, Yakub kalah dan sebelum pria itu pergi, Yakub minta diberkati. Entah apa maksudnya dia kok malah minta didoakan sama orang asing. Sehabis itu, malaikat menghilang. Yakub ketakutan dan bilang, aku sudah melihat wajah Tuhan dan tidak mati. 

MP: Tampaknya, Tuhan dulu sangat membatasi interaksi dengan manusia.

KV: Maksudnya?

MP: Sekarang banyak orang bilang, saya bertemu Tuhan secara pribadi.



MP: Menarik. Keramik ini pecah dan ditambal. Yesus memanggul salib.

KV: Diberkatilah siapa pun dia yang menembal kembali keramik yang pecah ini.

                                       ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ketika mereka berlima balik ke mobil, mereka baca Lonely Planet Indonesia, barulah mereka menyadari bahwa mereka baru saja mengunjungi dua keraton. Dua kerajaan. Lol!

"Dua? Lho, yang tadi?" begitu pekik MW.

"Keraton Kanomanan yang mana?" tanya MD.

"Yang lagi dipugar, termasuk tempat yang mereka sebut pendopo plus replika kereta kencana Singa Barong," jawab MP.

"Mana yang satu lagi?" tanya MR.

"Itu yang banyak panel keramik. Namanya Keraton Kasepuhan," jawab MP.  

"Nah, di mana ketemu bapak-bapak yang menawarkan minyak urapan?" tanya MP ke MM.

"Di Keraton Kasepuhan," jawab MM.


Kembali ke Lonely Planet Indonesia milik MM: Di abad ke-15 berdirilah Cirebon menjadi kesultanan Islam pertama di Jawa Barat. Cirebon makin jaya di bawah kepemimpinan Sunan Gunungjati pada abad ke-16.
Ini pastinya burung hong alias phoenix. Unggas ini, menurut legenda, bangkit dari api, menyimbolkan kejayaan. 

Sebagai pelabuhan yang padat karya, Cirebon menarik minat banyak bangsa, terutama Belanda dan China. Demikianlah, dua keraton yang saling berdampingan ini--Keraton Kanomanan dan Keraton Kasepuhan--masih menggaungkan pengaruh banyak kebudayaan dalam hal arsitektur dan interiornya sebagai bukti harmoni.

Senin, 12 November 2012

Raining On The Inside

When all goodbyes
Are said and done,
And nighttime finds you home,
Are you all right
To spend a night
Of being all alone?

And do you hide
Between the lines
Of conversations past?
A wall of words,
A heart unheard,
That hides behind a mask?

I'm raining on the inside;
My heart wells up with tears that start to pour.
I'm raining on the inside,
But then Your cries of love break through,
And I fall in love with You once more.

When friends who care
Can't be there
To ease away my pain,
And peace of mind,
It's hard to find,
Like sunlight in the rain.

God sees my heart,
The deepest part,
Inside this lonely me,
And reachin' in,
His love begins
To heal the heart in me.

I'm raining on the inside;
Oh, my heart weels up with tears that start to pour.
I'm raining on the inside,
But then Your cries of love break through,
And I fall in love with You once more.

Sometimes we're raining on the inside,
And our hearts well up with tears that start to pour.
But when we're raining on the inside,
Let His cries of love break through,
Know that He loves you, once more....

Sometimes I'm raining on the inside,
But then Your cries of love break through,
And I fall in love with You once more

Jumat, 19 Oktober 2012

"Time Is a Healer"

Time Is a Healer (sung by Eva Cassidy)

I found a picture of your smiling face
Bringing old memories
That I had locked away
The burden of anger
From a heart filled with pain
Was finally lifted
And I smiled at you again

Oh if time is a healer
And all hearts that break
Then all hearts that break
Are put back together again
'Cause love heals the wound it makes

I spoke such harsh words before our goodbye
Well I wanted to hurt you
For the tears you made you made me cry
All my hopes and dreams
Well they started vanishing
Those tender hurt feelings
Became a dangerous thing

Oh if time is a healer
If time is a healer
And all hearts that break
Then all hearts that break
Are put back together again
'Cause love heals the wound it makes (makes)

All of those years we spent together (spent together)
Well they're part of my life forever
I hold the joy with the pain
And the truth is
I miss you my friend

Well time is a healer
And all hearts that break
All hearts all hearts that break
Are put back together again
'Cause love heals the wound it makes

When Was It?




when was the last time I traveled with Mi?
Now I am trying to recall every detail of our trip to
Pantai Pasir Putih (me, Mi), early 80's?
Magelang years ago, often
Sumatra 1992
Surabaya to Oom Dan's 1998 in which she talked to him to support me!

Do I remember what she was wearing?
What did she packed to the bag?
What lunch did she bring me?
Which bottle of water did she bring along?
What stories did she tell?
Did she point where she lived long ago at Gempol?
Did she tell what movies her foster parents watched at kinos?
I have so many questions

So when I went to Singkawang with Pi, Fi, K Es, I knew what I miss and lose. All the way there and back, Pi would recall stories: the amounts of money she bought, where she stood, what she did if the motorbike would cross the small bridge.

What made her willing to endure the trips? Was it her love for others' souls that brought her there? I may never know the answer(s). But I know how people there miss her badly, but then so do I!

Please Sit Down with Me


Rabu, 10 Oktober 2012

Travel (not) Light

I always travel light to Pontianak, to where my parents’ house is. But I never called it home, considering I didn’t grow up in the equatorial city. But then where is home? I always carry a small bag along with huge hope. I can always wear Pi’s clothes or Mom’s oversized t-shirts.
But last September, I came back there carrying a small bag. I was heavy hearted.

It was the fifth time in the year that I came back there. This time to say “until we meet again” to Mi. That Sunday morning, she went to a place she called home. Indeed, she ever said, I want to have a house on earth and in heavens. She came home to her heavenly home.

How could she? I said. On Wednesday, I still talked to her. I woke up at 04.40 then made coffee and took a bath. I talked to her for a while and she prayed for me the way she always did. After that, she kissed my left and right cheek. “Now, kiss me, Son,” she inquired. I was amazed, didn’t we just kiss? So I kissed her cheeks and said bye.

Five days earlier, I witnessed her quick recovery. I was amazed (and am still). She told us plans. She said she still want to “testify the love of Jesus to many more people”. How amazing. She fought pain back with strong determination. She chose life. She ate more—much more than I ever witnessed and heard. Until today I still wonder, is it miracle?

But I’d never thought she ‘came home’ so soon. Oh, I’ve never missed her like this! Didn’t she want to meet her old acquaintances? Didn’t she eat more and was recovered? Didn’t she want to go on vacation with her children? Weren’t Bali, Miri, Singapore, and Jakarta on her list? Didn’t she herself said, she wanted to share Jesus’ love to others?

I was told, on the second morning on my fourth visit, she prayed before she slept. She said, “Lord, If I don’t wake up tomorrow, please open up the gates of heaven for me.” Apparently, her prayer was answered a week later. Perhaps, her children needed to be shown that their mother was recovering. That she ‘came home’ in good health and in joy. I guess, God loves Mi—much more than we love her. God only takes the best.