Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Chilling out with the Chillun

 Courtesy of Diah R Sulistiowati

 Photo by Dwi Ariyogagautama

The supposed-to-be last mikrolet blew out its engine in the middle of the kampong. Everyone stepped off. Here we were stranded in the middle of some kampong and when we turned our head, its young residents flew around us. 

Mister, mister, they called us, despite the fact that we look like every Indonesian. Perhaps they called us so because most people who come there are foreign tourists

In an instant we made acquaintance. These chillun were just out of classroom after reciting Koran class. They entertained us while we were waiting for the next mikrolet to take us to Kalabahi. 

To my regret, I din bring along a big plastic bag of candy I left in hotel room!  

All the trees in the field Clap their Hands for You

Can you imagine that, Sem. Isaiah wrote, you shall go forth in peace and the trees and the hills before you, they clap their hands for you. How cool is that! What made him think so? It’s a great narrative, though.

I bet Isaiah traveled a lot. And he enjoyed traveling. If not so, how could he wrote that inspiring verse. When I traveled back on train, It was one of the most enjoyable train trip I’ve ever had. On my left, the rice fields, the hills and cities. And on my right side, the Java Sea. beautiful!

When I saw the trees, I thought, their trunks resembled feet of a great flock of flamingos. And I could see they cheered me. I guess Isaiah was right. They clapped their hands for me.

Senin, 14 Januari 2013

Who Needs a Blue Sky Holiday?

One brief clear sky moment, by Diah R. Sulistiowati

Who needs a blue sky holiday? thus sings Daniel Powter in Bad Day. Who needs it anyway? I don't mind not-blue-sky holiday. Been on it. Last week, it rained hard. One hour the sky was clear, then it rained for hours. It went like that every day that we developed a rain-or-shine-here-I-come attitude from early on. MbakDiah, MbakTeja, and moi really had great times in Kupang and Alor.

An Office with a View


Yoga's office is literally by the sea. It has the view of the inlet, the sea, and the islands. Here, he has watched numerous dolphins and whales passing by. Wonderful, eh! An office with a view indeed.  
 

Rabu, 02 Januari 2013

Seeing Red

 
one of the Temples, across the pond

I’ve heard this many times: Cheng Ho (aka Cheng He), a mariner and diplomat, sailed to Semarang, Central Java, long long time ago. Like seven hundred years ago. (By the way, I wonder how a eunuch aka castrato could be that great man of power!) Along, he cemented another layer of what our ancestors apparently have always had: a great sense of tolerance. Our ancestors loved him. They did and perhaps he did, because he later traveled again to what now is Indonesia several times.

A muslim himself, Cheng Ho reportedly built a house of worship—Chinese style—which later was “baptized” a kelenteng alias a temple for Kong Hu Cu or Confusianism. How cool is that. And people said, you haven’t gone to Semarang if you haven’t gone to this temple. So on that Christmas day, after Christmas sermon at Gereja Blenduk (GPIB Imanuel), I went straight there despite the fact that dark clouds were hanging above the city.
I entered the gates with thanksgiving. It is beautiful indeed. Full of red, a color signifying, among others, wealth and happiness. Here and there more temples are being built. The smell of burning incense filled the air and I instantly remembered of Engkong’s house. He used to burn incense in the morning before going to work. 
And here I stood in the center of the complex, an open space. Before me is a long pond, separating the square with a row of temples. They look charming and I wanted to go across the river, err, pond. How can I go there? I asked someone. Deep river, my home is over Jordan…

If one wants to go there, they have to buy tiket wisata ibadah or ticket for pilgrims.

I approached the nearest temple which bears a sign: remove your footwear when entering. So, I removed my shoes. Then a man in uniform approached me, asking, “What are you up to?”

I wish to see inside, replied I.

Are you going to say prayers?” he asked.

No.

Then go!” he barked.

But why? I inquired.

Don’t ask, don’t argue. Go!” he barked yet even louder.

I was totally confused. I retrieved and went to the next temple. My goodness, I read a sign “Only worshippers may enter” next to “remove your footwear when entering” sign. Oh I got it! So, if you are nonworshipper, you may not enter the temple. Please remain in courtyard.

I am so sure I didn’t see any “only worshippers may enter” sign in the previous temple! I wanted to bark at that unfriendly man, yet I understood, I was only a guest here. And I didn’t want to ruin my day, but then his day! Christmas is all about sharing love and joy, eh? You bet.

I circled the temple complex and admired its beauty and history. And then it rained hard, so hard the water vapor entered the inside building in which I took refuge.

I, like other worshippers, took shelter inside. Of course, I removed my shoes and asked for their permission, “Hi, I am not a worshipper, but could I please come inside until it stops raining?” They welcomed me inside. 
 the temple, on Christmas day

How grateful I was since it rained for three straight hours, mind you! I thought to myself, “This is the beauty of tolerance. Cheng Ho must be proud of it!”

Minggu, 25 November 2012

Kisah Dua Kerajaan (Cirebon)

Perjalanan liburan yang dilakukan tiba-tiba selalu seru. Kebanyakan seru. Never mind the chaos, anyway. 
 "Meow!" said MP. "It should be 'Arrrr!' Mind you, it's a tiger," said K.
Begitu lah, MbakRuus, MsWaty, MasMoki, MbakDiah, dan MasPur—kesemuanya MR, MW, MM, MD, dan MP—naik kereta kelas bisnis ke Cirebon. Wow, wow, wow, begitu MP terkagum karena kali ini tidak ada penumpang duduk di lantai kereta. Di dua perjalanan MP sebelumnya di kelas bisnis (Jogja-Bandung, Jakarta-Surabaya), banyak penumpang gelap duduk di lantai kereta. Salut buat PT KAI untuk terobosan ini. Cirebon Ekspres kelas Bisnis pun jadi menyenangkan, terlebih lagi tak ada yang merokok. MD, duduk di samping MP, terlihat sangat hanyut dalam kenyamanan. Dia dibuai lantunan Edo Kondologit: “…kulitku hitam, rambut keriting, aku Papua…

Sesampai di Cirebon, mereka langsung mengarah ke kompleks keraton. Setelah membayar Rp5.000/orang, mereka masuk. Di sebelah kiri, ada museum yang sedang dipugar, begitu juga bangunan di seberangnya. Mereka pun masuk—dengan suka cita—melalui pintu gerbang batu bata. MP langsung teringat ke Masjid Kudus yang masih terinspirasi candi-candi Hindu ala Jawa Timuran. Banyak bagian bangunan Kraton yang memakai batu bata, macam kompleks bangunan kuno Majapahit di Mojokerto. Tak jauh dari situ terlihatlah pendopo besar dengan banyak tiang penyokong. Mungkin di masa lalu, pendopo itu hiruk-pikuk dengan kesenian…. MP hanya bisa membayangkan saja. Dia sedikit menyesal tak datang saat kirab budaya sehari sebelumnya.
Setelah berfoto di pintu gerbang—yang dimasuki dengan suka cita tadi—mereka pergi ke bangunan di sebelah. Façade-nya putih. Putihnya terlihat seperti putih kapur, sehingga MP berpikir, apa yang ada di balik pelapur putih itu? Apakah itu susunan batu bata? Mengapa banyak keramik di dindingnya?

Pelat keramik itu ternyata bergambar: kapal, bangunan mirip kincir angin, unggas. Masuk ke dalam ruang yang dahulu adalah tempat raja dan para petinggi rapat, ternyata banyak keramik yang menutupi dindingnya. Ada panel warna biru, ada panel warna cokelat.

Panel biru bergambar tentang aktivitas sehari-hari. Ada kapal, ada bangunan mirip kincir angin, dan ada unggas. Di keramik biru, ada pula berbentuk bulat, seperti piring. Di situ ada gambar rumah bergaya arsitektur China.

Namun, yang paling menarik MP adalah panel warna cokelat. Panel itu malah penuh gambar dari kisah-kisah di Alkitab. MP cukup heran, mengingat ini kesultanan Islam. Dia pun langsung terbawa ke kisah-kisah di Sekolah Minggu….


Hampir setiap panel MP kenali kisahnya.

Yang ini kisah Yesus dan murid-muridNya sedang menjala ikan. Murid-murid ini sudah seharian jala ikan di Danau Galilea, tapi nggak dapat seekor pun. Waktu Yesus bilang, lemparkan ke sisi kanan. Dapet deh mereka sampai kapal oleng. Dihitung, ada 150 ekor lebih. Yesus sendiri sudah siapkan bara api, tinggal bakar ikan.

"Ini Bileam!" kata satu suara. Seperti biasa, saat MP sedang mencoba menggali ingatan di otak kelabunya, KV hadir.

KV: Dia lari dari tugas, kalau tidak salah?

MP: Sepertinya ya. Dia naik keledai dan keledai ini selalu mundur sampai Bileam jatuh. Si keledai pun dihardik dan dipukul. Oleh Tuhan, si keledai dibukakan mulutnya dan binatang itu pun berkata-kata, “Kenapa kamu marahi aku? Di depan ada malaikat menghunus pedang!” Bileam pun langsung minta ampun ke Tuhan.

KV: Bileam pasti terguncang setengah mati mendengar keledai bicara dan keledai bawa berita menyeramkan. Luar biasa. 

MP: Itulah alasan aku percaya, binatang dapat diajak bicara.

KV: Daud mengalahkan Goliath. Manusia raksasa ini tingginya 3 meter.

MP: Wah, dia bisa jadi atlet basket tenar. 

KV diam saja, merasa tak perlu mengomentari celetukan MP.



MP: Ini alasan mengapa bahasa manusia berbeda-beda.

KV: Karena orang-orang membangun menara Babel yang tingginya sampai ke langit “untuk menyaingi Tuhan”. 

MP: Masak Tuhan marah kalau mereka bangun menara sampai ke langit?

KV: Tuhan marah dan membuat mereka berbahasa macam-macam dan mereka saling bingung dan karena itu, diaspora terjadi. 

MP: Pasti bukan karena itu Tuhan marah, buktinya sekarang banyak gedung yang mencapai langit.


KV: “Kalau kamu minum dari air milikku, kamu tidak akan haus lagi,” kata Yesus ke perempuan yang mau ambil air di sumur ini. Si Perempuan itu tentu langsung mau air itu. Tapi, yang Yesus maksud adalah damai sejahtera, air untuk jiwa yang dahaga.

MP: Kenapa Yesus suka sekali bicara dalam bahasa kiasan?

KV: Entahlah. Singkat cerita, setelah mengobrol di tepi sumur, perempuan yang punya lebih dari dua suami ini mengikuti ajaran Yesus.

KV: Ini pastilah para cendekia dari tempat yang jauh. Mereka mengikuti bintang yang mengarahkan mereka ke rumahnya Yesus. Bintang itu pasti spesial dan mereka pun spesial karena bisa membaca pergerakan benda-benda di langit. Mereka bawa emas, mur, dan kemenyan buat Yesus Cilik. Pasti itu berarti banget ya buat Maria dan Yusuf yang hidup pas-pasan. 

MP: Gimana kamu tahu mereka miskin?

KV: Maria dan Yusuf waktu ibadah ke Bait Allah, mereka bawa burung tekukur sebagai korban ucapan syukur. Buat yang lebih mampu, mereka bawa mamalia kaki empat macam domba.

MP: Air bah, banjir besar. Le deluge! 

KV: Nuh, istri, tiga anak, tiga mantu selamat karena mereka bikin bahtera. 

MP: Tiga anak Nuh: Sem, Ham, Yafet. Namaku disebut.

KV: Ya. Kenapa tidak disebut nama istri Nuh? Juga nama-nama mantu mereka?

MP: Pertanyaan yang nggak pernah aku pikirkan sebalumnya. Aku sendiri lebih tertarik mencari tahu alasan kenapa hanya delapan manusia yang diselamatkan bersama hewan-hewan? Apakah ada dinosaurus masuk di bahtera?

MP: Panel yang ini membingungkan. Ini Yesus berdoa di Taman Getsemani ditemani dua murid? Atau ini Saulus? Dua kisah ini punya kesamaan: ada suara dari langit.

KV: Yesus berdoa, Allah Bapa menyahut dari langit. 

MP: Saulus juga! Ini waktu dia jatuh dan ada suara datang dari langit. Saulus kan penyiksa orang-orang Kristen. Dia Yahudi fanatik alias radikal. Dia mengejar orang-orang Kristen dan memenjarakan mereka, memvonis mereka sesat. Akhirnya, setelah satu kecelakaan, dia malah jadi orang Kristen.

KV: Terserah. Bisa Saulus, bisa Yesus. Oh ya, Saulus ganti nama jadi Paulus setelah ikut Yesus.


Ini Yusuf menuntun keledai yang ditunggangi Maria dan Yesus Cilik. Mereka melarikan diri ke Mesir. Saat itu, Timur Tengah dikuasai Roma dan rajanya membunuhi bayi laki-laki karena dia dengar gosip, raja yang akan menggulingkan Roma telah lahir.



MP: Simson alias Samson. Dia bunuh singa dengan dua tangan. Hebat!

KV: Lebih hebat lagi, setelah itu, lebah-lebah bersarang di bangkai singa itu dan Simson mengambil madunya. Dari situlah lahir tebakan, “Dari yang kuat keluar makanan. Apakah itu?” 

MP: Apakah karena perbuatan Simson itu, kini singa punah dari wilayah Timur Tengah? 



MP: Ini siapa coba? Masak manusia berkelahi dengan malaikat?

KV: Ini Yakub lagi bergulat dengan malaikat. Kisahnya ada di kitab Taurat yang pertama. Yakub melarikan diri dari dendam abangnya, nah malam-malam dia ketemu orang. Tidak dicatat kitab itu, apa alasan mereka bergulat. Dia nggak sadar, pria itu malaikat.

MP: Kok dia nggak tahu itu malaikat? Nih lihat, orang ini pakai sayap.

KV: Jangan literer, ini ilustrasi. 

MP: Pasti pas berantem, malaikat itu nggak pakai sayap alias nggak menampakkan diri dengan sayap.

KV: Paginya, Yakub kalah dan sebelum pria itu pergi, Yakub minta diberkati. Entah apa maksudnya dia kok malah minta didoakan sama orang asing. Sehabis itu, malaikat menghilang. Yakub ketakutan dan bilang, aku sudah melihat wajah Tuhan dan tidak mati. 

MP: Tampaknya, Tuhan dulu sangat membatasi interaksi dengan manusia.

KV: Maksudnya?

MP: Sekarang banyak orang bilang, saya bertemu Tuhan secara pribadi.



MP: Menarik. Keramik ini pecah dan ditambal. Yesus memanggul salib.

KV: Diberkatilah siapa pun dia yang menembal kembali keramik yang pecah ini.

                                       ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ketika mereka berlima balik ke mobil, mereka baca Lonely Planet Indonesia, barulah mereka menyadari bahwa mereka baru saja mengunjungi dua keraton. Dua kerajaan. Lol!

"Dua? Lho, yang tadi?" begitu pekik MW.

"Keraton Kanomanan yang mana?" tanya MD.

"Yang lagi dipugar, termasuk tempat yang mereka sebut pendopo plus replika kereta kencana Singa Barong," jawab MP.

"Mana yang satu lagi?" tanya MR.

"Itu yang banyak panel keramik. Namanya Keraton Kasepuhan," jawab MP.  

"Nah, di mana ketemu bapak-bapak yang menawarkan minyak urapan?" tanya MP ke MM.

"Di Keraton Kasepuhan," jawab MM.


Kembali ke Lonely Planet Indonesia milik MM: Di abad ke-15 berdirilah Cirebon menjadi kesultanan Islam pertama di Jawa Barat. Cirebon makin jaya di bawah kepemimpinan Sunan Gunungjati pada abad ke-16.
Ini pastinya burung hong alias phoenix. Unggas ini, menurut legenda, bangkit dari api, menyimbolkan kejayaan. 

Sebagai pelabuhan yang padat karya, Cirebon menarik minat banyak bangsa, terutama Belanda dan China. Demikianlah, dua keraton yang saling berdampingan ini--Keraton Kanomanan dan Keraton Kasepuhan--masih menggaungkan pengaruh banyak kebudayaan dalam hal arsitektur dan interiornya sebagai bukti harmoni.