Rabu, 27 Januari 2016
Rabu, 15 Januari 2014
Semakin Basah, semakin...Basah
Hujan. Basah. Seminggu di Lombok, tiada hari tanpa hujan pas liburan dengan
trio A: Agus, Ayu, Acionk. Tapi, semangat kita tidak luntur disapu
hujan.
Pertama kali buatku liburan di pulau
ini. Aku suka pesisirnya yang berteluk-teluk. Cekung-cekung itu
memberi tempat untuk pantai-pantai yang indah. Kita naik motor dan
menyusuri jalan-jalannya yang penuh tantangan—terutama buat Agus
(dia bonceng aku, that explains...) Selain itu, kita sering
mengalami “intervensi hewani” karena banyak ayam, anjing, sapi,
kambing, dan kerbau turun ke jalan....
Oh ya, bolehlah aku memakai istilah
“intervensi ilahi” untuk menyebut jeda terang di musim penghujan.
Kita tetap bisa menikmati libur walau awan gelap menggantung di atas
kepala.
Empat hari di pulau utama, kita pergi
ke Tanjung Aan, Senggigi, Kuta, dan sebuah teluk yang permai betul.
Hari itu, kita menuju Blongas. Jalannya, wah, menantang, menukik,
menanjak, dan…rusak. Kita sangat terguncang—dalam makna
sebenarnya.
Akhirnya, jalanan mulus juga. Di satu
puncak bukit, kita terpesona melihat sebuah teluk yang indah.
Pantainya pasir putih dan ada sand bank-nya dan petak-petak rumput
laut. Kita bermain-main di situ. Seru betul.
Setelah bertahun baru di Kuta, kita ke
Gili Trawangan. Pulau cukup luas dan punya bukit. Seru walau sangat
modern. Banyak toko keperluan dan mesin ATM! Ketika masuk air,
kulihat banyak ikan. Terumbu karangnya banyak, namun tidak sedikit
pula yang rusak. Menariknya, di pulau ini, kapal dilarang buang
jangkar dan orang mulai menanam koral sebagai usaha konservasi.
Teman-teman semua bilang, mereka
melihat penyu di laut. Sementara aku? Tak seekor pun! Ke mana
penyu-penyu? Akhirnya kusimpulkan, hanya kaum beriman yang bisa
melihat penyu di sini….
Kita suka tempat-tempat nongkrong di
pualau ini. Tidak sedikit yang kemahalan, tapi kita menemukan juga
tempat-tempat yang sajikan menu enak sesuai harga.
Pagi terakhir di Gili, Agus ajak aku
masuk ke air. Sebenarnya, aku malas, apalagi telapak kakiku baru saja
disengat lebah! Kayaknya, sudah bertahun-tahun lalu sejak pertama
kali disengat! Setelah mencungkil sengatnya, aku ambil peralatan dan
masuk ke air. Gila, airnya dingin dan arus kencang betul!
Waktu timbul ide untuk naik ke pantai
saja, tiba-tiba, Agus memanggil. Dia menunjuk ke bawah. Apa itu?
Wow, penyu sisik! Besar pun! Penyu itu sedang mengayuh perlahan ke
permukaan dari kedalaman 3 meter. Indah betul penyu dan gerakannya.
Aku mempehatikannya sampai dia hilang dari pandangan…. Berbahagialah mereka yang melihat dan percaya!
Ah, akhirnya aku bisa melihat penyu….
Sekarang, bolehlah aku menganggap diri sebagai bagian dari golongan
orang beriman!
Senin, 05 Agustus 2013
Adem
Pengin ke tempat yang banyak anginnya dan pohonnya, terus pasang hammock dan berayun-ayun. Nggak peduli kalau pantat kedinginan kena angin!
Sugar Rush!
Agus melancarkan aksi bersih-bersih di sepetak tanah tempat
Bu dan Pak Udin jualan di Pulau Pari. Aku yang pada dasarnya malas gerak jadi
takjub melihat adegan ini.
Aku yakin, itu bentuk kepedulian rekanku ini terhadap pulau
yang kita singgahi. Pulau ini memang menderita akibat sampah kiriman. Sedih
juga melihat tumpukan sampah plastik dan styrofoam mengotori keindahannya….
Pacar Ketinggalan Kereta & “Bukan Pacar tapi Ketinggalan Kapal”
Yang bikin film Pacar Ketinggalan Kereta pasti terinspirasi
untuk bikin film berdasarkan pengalamanku dan teman-teman di Pulau Pari: aku,
Agus, Ciwit dan Yasa ketinggalan kapal. Jadi, kami cari informasi sana-sini
untuk pulang. Di loket dekat dermaga tertulis ada kapal cepat Kerapu dengan
kuota enam orang. Kita antre di depan loket penjual tiket, menunggu petugas
kembali dari jam istirahat.
Kedua petugas itu datang dan kita tanya-tanya. “Kapal Kerapu
diutamakan untuk pribumi,” kata penjual.
“Maksudnya pribumi?” tanyaku.
“Orang pulau sini,” jawabnya, “Sudah ada empat orang yang pesan.
Dua lagi pun sudah dipesan.”
Oke kalau begitu. Memang layak penduduk lokal pulau
diutamakan. Lalu, aku tanya lagi, “Jam berapa kapal penumpang biasa yang bukan
kapal cepat besok berangkat?”
“Nggak tahu,” jawab penjaga itu.
“Lho bukannya Mbak petugas di pelabuhan ini. Masak tidak
tahu?” tanyaku.
“Nggak tahu,” jawab dia lagi sambil terus memandangi
ponselnya.
“Kalau pesan tiket Kerapu besok pagi bisa Mbak?” tanyaku
lagi.
“Nggak tahu,” jawab dia lagi sambil terus memandangi
ponselnya.
“Oh, oke,” sahutku. It was so fucking frustrating to talk to
ignorant people. Mereka kerja di pelabuhan sekecil itu tapi tidak tahu info
kapal? Nggak masuk akal. I smelled something fishy. Aku pikir aku saja yang
diperlakukan begitu. Ciwit pun ternyata juga dapat perlakuan yang sama waktu
dia bertanya ke kedua wanita itu. Setelah itu, ada semacam calo kapal
menawarkan naik Predator, kapal cepat yang lebih cepat dari Kerapu. Dia jual tiket
Rp 175.000. Terlalu mahal untuk kita terlebih lagi uang tunai kolektif kita tidak
sebanyak itu.
Ada seorang ibu pemilik warung di samping loket yang
mendengar pembicaran ini. Dia panggil kita dan kasih banyak info soal kapal.
Bahkan ibu ini tahu informasi lebih banyak soal kapal daripada dua penjual
tiket itu. Luar biasa. Ibu yang baik. Penduduk pulau yang baik!
Akhirnya kami menumpang kapal ke Tanjung Pasir, Tangerang.
Lumayanlah hahahaha….walaupun harus berganti lima kendaraan untuk sampai kosku!
Hahaha….
Senin, 17 Juni 2013
Kumasuki GerbangNya
Di hari Minggu itu, aku diajak Kak Es ke gereja tempat dia berjemaat. Tapi, kupikir, itu jauh dan aku sedang tidak siap berbasa-basi. Jadi, aku pergi ke gereja yang paling dekat, dapat dijangkau dengan jalan kaki: katedral di Kuta. Dalam hati, sambil aku melangkah masuk, aku merasa aku "masuki gerbang dengan hati bersyukur, ke halamannya dengan pujian. Kataku hari ini hari buat Tuhan, kubersuka sebab Dia girangkanku..."
Oke, itu lagu yang kuingat dari masa kecil hahaha. Jadi, aku masuki gerbang gereja itu dengan kekaguman, sebab, bentuknya kontemporer dan amat modern interiornya. Ada sentuhan Bali di sini.
Aku ikut misa yang kebetulan dalam bahasa Inggris. Sedihnya, aku nggak bisa dengar dengan jelas apa yang dikatakan pastur. Ini telingaku atau pastur yang bicara kurang jelas ya? Kemungkinan besar telingaku.... Jadi, sepanjang misa, aku mengamati interiornya dan menikmati suasana.
Dan, di misa itu, lagu yang sama ini juga dinyanyikan, tapi dalam bahasa Inggris.
Sabtu, 15 Juni 2013
Star of Wonder
(colors have been digitally modified)
Selain motif tradisional, bentuk kontemporer, seperti motif ikan, penyu, dan rusa juga banyak dijumpai. Tapi, ada satu yang membuatku tergelitik untuk bertanya lebih jauh.
(colors have been digitally modified)
“Apa ini bintang Daud?” tanyaku ke penjual kain di dekat
RSUD.
“Bukan, ini bintang laut, Muda,” jawab si kakak itu. (Betapa
senang hati ini disapa dengan “muda”!)
"Bukankah bintang laut punya lima sudut? Bintang ini punya
enam sudut, Kakak,” kataku menunjuk kain.
“Bukan, ini bintang laut, Muda,” jawab si kakak itu, lagi.
(Sekali lagi betapa senang hati ini disapa dengan “muda”!)
Aku tidak berargumentasi lebih jauh karena di pantai berpasir
merah muda itu, aku menemukan dua bintang laut yang amat aneh bentuknya. Aku
pun jadi yakin, itu motif bintang laut.
Rabu, 05 Juni 2013
Stick to Stick Figures
So we went window shopping that night after hanging out at Motel Mexicola. Got fascinated with these stick figures. Time to revisit some culture, eh?
Senin, 03 Juni 2013
Ay, Keramba!
Ternyata
banyaaaaak sekali jermal alias keramba alias tongkang di teluk
Jakarta! Kaget aku melihatnya. Tampak kurang elok.
Little House in the...Valley
Sebenarnya,
bintang dari foto ini bukan hydrangea, tapi rumah petani bunga di
Bedugul nan indah permai ini....
Jesus Entering Brussels...then Jakarta
Minggu
pertama di April itu, aku pergi ke pameran Deep and Extreme
Indonesia. Setelah bertemu Umi, Echi, Sulis, Bayu, dan Ifan, aku dan
Sulis lanjut ke Agrinex di lokasi yang sama. Begitu masuk, aku takjub
karena berpapasan dengan ratusan orang yang keluar Plenary Hall.
Mereka berjalan dengan cepat sambil membawa bibit pohon. Batang dan
dedaunannya melambai, seakan-akan menyambutku...
Ah,
begini saja aku sudah girang bukan main. Bagaimana dengan Isa (Yesus)
dahulu ketika masuk ke Darussalam (Yerusalem)? Di sana dia—oke,
Dia—disambut ribuan orang yang melambaikan kain dan daun palem….
Senin, 01 April 2013
Senin, 18 Maret 2013
The Butterfly Lovers & The Cry of the Violin
I remember, some time ago, I used to play it on the desktop. Vanessa-Mae’s version from her China Girl. I love it because it’s lyrical and at some point grandeur. It’s a beautiful marriage of Chinese-style music and Western orchestration. The violin, of course, is the king.
One morning Fiona asked, “Whose music
is it?”
Vanessa-Mae’s, said I.
“It’s so Chinese style.”
It’s the Butterfly Lovers Violin
Orchestra.
“Butterfly what? Oh, I know, it’s Sampek
Engtay!”
I had no idea what or who Sampek Engtay was. So I consulted a book.
Long long time ago in the Middle
Kingdom, Engtay, just like Fa Mulan, cleverly disguised herself as a
boy in order to get education. She met Sampek. Long story short,
they fell in love. Sadly, they got separated because Engtay’s
parents forced her to marry their colleague’s son. Sampek,
heartbroken, fell ill and soon, died. On her way to some place on her
wedding day, Engtay passed by Sampek’s grave. She took some time to
pray. Hearing this, the sky thundered, the grave broke open, and
Engtay jumped into it. Then a pair of butterfly flew from inside the
grave to the sky….
Years later from the converation, I managed to watch the show. Exactly last weekend. Watching the show (Teater Koma’s version is not accompanied with the Violin Orchestra but by their own musical pieces), I realized why some parts of the Violin Orchestra is so melancholic. The way the violin cries sounds like a woman in agony. And near the end of the third move, it roars grandly, I bet it's when the grave breaks open. What music.
As for the show, this year’s Sampek
Engtay is the 25th year celebration of the show. Back in
1988, the show caused a stir for portraying many Chinese inspiration.
Chinese culture was banned in public from late 1960s to late 1990’s
by the regime. Cleverly the director, Nano Riantiarno rewrote the
centuries old love story and set it in Indonesia. It was a clever
move. So the show is a friendly reminder of what a regime could do
and also a celebration of what freedom can inspire.
Langganan:
Postingan (Atom)
























